Poligami dan Poli lainnya
Aku punya opini pribadi tentang hal yang menghebohkan ini... Tidak bermaksud memihak yang pro dan kontra... Cuma mencoba mengkajinya lebih luas daripada sekedar poligami itu sendiri....Gak usah tersinggung karena sangat bisa aja aku salah....
Menurutku gini,
Kayaknya kok sekarang orang punya tolok ukur beda ketika membuat "karir" dan "target" kehidupannya...
Dimulai dari:
target lulus sekolah SD --> lanjut ke SMA -->target keterima UMPT --> kuliah - target lulus secepatnya --> target kerja --> target pindah kerja di kantor yang lebih bergaji besar --> target menduduki kedudukan penting di perusahaannya --> target kaya raya.... dan kemudian... mulai kehilangan minatnya di hal-hal standar... mulai kehilangan tantangan hidup karena sudah sangat steady dan membosankan.. Semua sudah tercapai dan "bisa dicapai" secara mudah... Setelah itu.... mulailah ia "loosing his interest on his monotonous life"... Jadilah mulailah mengada-ada menciptakan target yang sayangnya kok jadi terlalu duniawi dan pemenuhan rasa penasaran aja... salah satunya, ya itulah .. target punya istri kedua... ketiga, dll
Aku kadang merasa bahwa memiliki istri kedua itu dijadikan ajang pemikiran "resolusi masa depan" oleh komunitas tertentu dalam hal membuat target hidup selanjutnya... Kayaknya seperti memikirkan bahwa "my next target for my future life" adalah "everything should be better than the old one"... (kadang-kadang betul sih.. di konteks tertentu..)
Kemudian, oleh orang-orang tersebut, seolah ada pemikiran begini:.. "setelah karirku tercapai.. mmm... apa lagi ya... oya.. istri kedua!!..." (suudzhon banget nih gue.. ...).. Soalnya itu pernah terjadi oleh temenku.. yang dia menyatakan.. "iya nih.. kayaknya udah waktunya nih punya istri kedua... .. bilang ah sama istriku.. pelan-pelan kan dia akan setuju..." (jadi kadang bukan diawali karena beradu pandang dengan seseorang dan jatuh cinta lagi... (aneh ya?))
Kadang aku merasa memiliki istri kedua seperti eksplorasi baru seseorang akan barang baru... Misalnya sama seperti model Handphone pribadi waktu kita kuliah ato baru lulus mulai terasa "aus dan berkarat" yang rasa-rasanya dalam satu tahun kedepan aku udah harus MAMPU dan TARGET membeli yang baru, lebih bergengsi dan mahal..., tanpa dimengerti banget apa hakiki memiliki sebuah handphone itu sendiri... jawab mereka, selalu: Toh saya punya uang, .. toh saya rasa lifestyle saya sudah beda, jadi wajarkan kalo aku udah waktunya ganti... ato yang gawat kalo ada yang ngomong... hari gene kok masih pake handphone tanpa kamera? ganti donggg.... Ato orang-orang tertentu yang merasa harus punya 2-5 mobil karena ... "ya piye.. kan ada model terbaru....", "kan aku mampu membelinya"... dll.. .... tanpa dimengerti banget apa sih kebutuhan kamu sesungguhnya dan apa kaitannya dengan membeli mobil yang baru...yang nota bene (misalnya lo..) 4-wheel drive, tapi dikemudikan di jakarta-jakarta wae.. .
Nah, itulah mungkin yang terjadi... begitu seseorang lelaki MAPAN (baca:monoton dan bosan) di level tertentu di hidupnya, baik dari segi keuangan, pemenuhan nafkah batin, dlll .. kok kadang kala saya merasa mereka mulai mencari-cari tantangan/gairah/target baru yang bisa membuat "I am gaining my interest on my life again"..... "I live again!!"... "I have a new dynamic-attractive-interesting life again!"... "My life is interesting again!!" dengan tujuan untuk "mengentaskan" seluruh kemapanan (baca: kemonotonan dan kebosanan) hidup yang membuatnya kehilangan selera akan eksplorasi arti hidup lagi.....alias "kok hidupku membosankan ya..." "Kok hidupku engga ada gairah lagi ya..."
Herannya, kenapa bukan mencari tahu apa yang membuat hidupnya membosankan.. mencari tahu, jangan-jangan dirinya lah yang membosankan... Karena ada istilah, "hidup itu akan terasa sangat menantang dan tidak membosankan kalau kita pribadi bisa menjadi penantang yang baik..." ... Jadi jangan buru-buru mencari solusi dari luar tanpa berkaca ke dalam...
Kenapa bukan bereksplorasi lebih dalam tentang arti hidup itu sendiri, semisal, arti keluarga, arti pernikahan sejati, arti peran pasangan hidup itu sendiri (bukankah sudah dinyatakan bahwa manusia sebagai khalifah dunia itu diciptakan berpasang-pasangan... masih banyak makna yang bisa digali), arti dan maksud dari soulmate, dll, dll... Misalnya, apa kita sudah sangat mengerti secara dalam tentang pasangan kita?
Banyak cerita yang mengatakan bahwa banyak pasangan yang telah menikah berpuluh2 tahun tapi tetap saja terkadang masih menemukan sisi kehidupan pasangannya yang baru, yang belum dikenali, dll....Kenapa excitement kita untuk tetap bereksplorasi bukan disalurkan dengan terus-menerus secara ikhlas dan sabar berusaha mengenali pasangan hidup (yang telah dipilihkan oleh Nya dan dengan sukacita kita berupaya keras mensahkannya dalam lembaga perkawinan).... Ato lebih jauh, apakah kamu sudah secara dalam mengenali orang-orang di sekeliling kita... engga usah jauh-jauh.. .masihkan kita punya excitement mengenali lebih dalam orang tua kita yang beranjak tua dan sendirian... atau anak kita yang beranjak remaja..... Kenapa repot-repot mengeksplorasi orang lain (baca: calon bini baru) padahal demikian banyak nikmat rahasia dari sekeliling kita yang nauzubillah masih terpendam dalam sebagai harta yang tak terhingga....
Karena menurut ku (pribadi), sebenarnya kita itu sebenarnya masih CETEK dan BUTA memahami arti hidup kita masing-masing.. rasanya arti hidup itu bukan ditentukan oleh banyaknya babak kehidupan yang kita lalui, seberapa banyak gunung yang kita daki (bagi pecinta alam, misalnya), sejumlah title yang kita miliki, sejumlah gelar sekolah yang kita dapat, sejumlah teknologi yang selalu kita kejar, termasuk sejumlah target kehidupan yang secara sukses sudah kita "menangkan" (kayak pahlawan yang menang perang ketika mendapat jabatan baru dan berhasil menjadi terpandang di komunitasnya) .... Rasanya bukan dari itu. Arti hidup menurutku didapat ketika kita dapat terus menghargai dan tanpa putus mensyukuri apa yang kita dapat, dan tetap secara optimis menggali lebih dalam apa arti diri kita, dan apa yang kita telah dikaruniai oleh Nya...
Jadi, PR kita di diri kita sendiri masih banyak lo dihadapan Pencipta kita... jangan kemaruk buru-buru.. jangan ekploitasi berlebihan dengan dalih mencari makna hidup tanpa tahu artinya secara dalam ...
Itu kataku lo.. . sangat bisa jadi salah... heheheh
adetinameiardi
The Earth That Glitters
Bandung is raining again.
Last night and two nights ago, Bandung was poured by some shower. Again. Pretty hard. Hard enough to make some annoying noise in my ears while the drops were dropping at the roof of my office….. It was little bit weird, actually, since in the day time the whether are still too hot to be considered as a rainy season… It is also weird because it happened only in the night time. The day was still the same hot as it was in the dry season... Or even hotter, some mentioned…..
Even tough, it was still too interesting to be ignored on how the rain is showering… It is so interesting to see drops coming from the sky and pouring the land. It makes two contrast atmospheres between the day time and the night time. All of the sudden, I feel that the earth now has two faces… Two opposite attractive faces….. The face of the day time —where everything is white and bright, caused by the sun that shining too damn hot—, and the face of the night time —where everything is dark, black and deeply glowing, caused by the glitter reflected by the water drop in every surface of the earth—…..
***
The rainy season is always a marvelous time. At least for me. It seems that the earth is playing now. Playing with ‘his’ appearance. Playing on how ‘he’ tries to changes ‘his’ look. Yup, I believe so. For me, raining is one of many ways on how the earth tries to change his look. There is an old saying states that “raining is the way on how the earth tries to take a shower”. Take a bath. Clean its faces. Even the earth needs to change its look once in a while. Why the earth needs to change its look, becomes a question for me…... Probably, it does just to make a new excitement for people who count their life on it. Or perhaps, to make a new hope for those who keep hoping that the new beginning will be starting afterward. Pancaroba, Indonesian calls it. Familiar with “Between Seasons”. Why it becomes marvelous is another question for me…. Or even as simple as realizing that everything in between always captures me as an interesting moment. Cos we never know how the next one would be, and we never know how it excite us afterward…..
***
Yet, the moment of Between Seasons always become a love-hate situation for all. Some people hate to face the beginning of a new season, even tough eventually they will hate it when this new season is ending…Or the others will celebrate this new season until they get bored with it and start to miss the other season…. It’s funny… But one thing for sure, I do believe that the earth knows exactly how to change ‘his’ face. Season comes and goes when we start to be bored with the previous one. Probably he comes to constantly remind us.. About the dynamics of the life could be … About the time that will be missed…
But for me, I’d prefer to say it with my own words. I think he comes to seduce all of us. Seduces me with his attractive-girly-boyish face and temptation about the deep meaning of life ….. Cos he feels jealous with our monotonous life. He feels so irritated by our boring life…. And tries to remains us how marvelous new live could be…. or how priceful time would be..
And now I could understand it… I could feel it…..
--------------------
Koran Pagi
Koran pagi. Selalu datang sebelum pagi itu sendiri datang. Jelas sebelum aku bangun. Seperti lagaknya adegan di layar Negeri Amerika, tiap pagi aku membuka pintu apartemenku untuk mengambil koran pagi. Memakai house-coat putih dan sandal bulu bergambar muka beruang. Membuka lembaran pertamanya sekilas lalu terbirit-birit masuk rumah kembali karena hawa dingin mengejarku. Dan menutup pintu. Seperti di adegan filem yang kemarin kusaksikan. Juga sehari sebelumnya. Dan juga mungkin lima hari yang lalu.
Secuplik geli pada senyumku. Aku kini mengalami kebiasaan yang dulu kuanggap luar biasa. Aku berlangganan koran Negeri ini. Tiap pagi. Kebiasaan baru bagiku. Sama seperti aku mulai makan pagi –yang kini kusebut breakfast– dengan cornflakes dan susu. Atau menekan tuts teleponku untuk sebuah pizza di kala senggangku. Aku rasa aku sudah mulai fasih. Fasih mengikuti adegan-adegan filem Negeri ini. Fasih seperti Orang Negeri ini. Seperti yang kusaksikan di layar kemarin. Betul, kusaksikan juga sehari sebelumnya. Juga lima hari sebelumnya. Aku tidak menganggap adegan itu luar biasa lagi.
* * *
Berlangganan koran adalah ide temanku, Nadwa, sesama pelajar asing yang tinggal bersebelahan denganku. Lebih murah, katanya. Juga praktis, tambahnya. Aku manggut-manggut menyetujuinya. Alasan klasiknya adalah, eceran selalu lebih mahal jatuhnya daripada berlangganan. Lagian, bukankah kita harus mengikuti perkembangan berita Negeri ini, buru-buru ditambahkan olehnya. Dan, praktis, karena selalu tersedia di depan mata. Di depan pintu rumah. Mungkin diantar oleh remaja teenager yang bekerja part-time buat menambah uang jajan sekolah. Mungkin dengan mengendarai sepeda. Memakai topi, jaket bergambar salah satu klub baseball idolanya –taruh kata yankees–, dengan tumpukan koran pada keranjang depan yang siap dilemparkan ke pintu pelanggan. Berkeliling sekitar lingkungan rumah-rumah khas suburban, asri, tanpa pagar, berwarna-warni. Sesekali diperciki semburan air yang berputar perlahan dari garden sprinkler di halaman berumput hijau memikat. Aku rasa seperti itu. Seperti di adegan filem yang biasa kusaksikan. Seperti yang dialami Orang Negeri ini.
Kubuka lembaran koranku. Ada kabar menarik apa hari ini? Ternyata, sudah tidak ada berita tentang hangatnya pertikaian dua kubu calon penentu Negeri ini. Bush dan Kerry. Baru kuingat, bahwa itu sudah selayaknya menjadi berita basi. Karena sudah 6 minggu yang lalu berujung di pemilihan umum. Aku memang tidak perduli dengan sang pemenang, tetapi sorotan kemasan berita ala paparazi yang aku incar. Bukan dialog sang tuannya, apalagi ulasan programnya. Terlalu rumit buatku. –”Atau terlalu asing, mungkin maksudmu?”, suara lain di kepalaku menggodaku...”Bukan, hanya rumit saja”, tegasku. ”Tidak..!., kini tidak lagi asing bagiku, kok... mmm ...mestinya tidak....”–. Kubuka terus halaman koranku. Sia-sia mencarinya. Sudah bukan berita menarik lagi mungkin. Jadi, apa lagi yang bisa aku baca? Let’s see, ... bagaimana kalau tentang ... pertikaian klasik antar dua gang Hispanik? Tragedi pengakuan seorang governor atas kelainan homo-sexual dirinya? Kisah heroik gadis cilik berumur 4 tahun yang menyelamatkan ibunya dari kecelakaan di jalan tol? … Atau spot niaga tentang peluang memiliki rumah? … Mendadak aku kehilangan selera membaca. Aku menyudahinya bahkan sebelum mencapai halaman terakhir. Mungkin memang terlalu asing buatku.
* * *
Hari itu kutemui koran pagiku rusak karena kuyup hujan yang kemudian mengering keriting. Di sudut sisi berandaku dan tertutup debu. Padahal hari itu tidak hujan. Tidak untuk hari itu. Menggerutu aku membukanya, siap menyumpah pada pengirimnya. Membuka lembaran pertamanya sekilas, lalu kubuka pintu rumahku. Seperti biasa. Langkahku terhenti ketika kutangkap sesuatu di satu pojok halamannya. Baru kusadar, ini bukan koran pagiku hari itu. Tapi sehari yang lalu. Dan di kakiku masih teronggok koran pagiku hari itu. Teronggok sejak pagi hari. Dan saat itu memang sore hari, bukan pagi hari. Dan aku tidak sedang mengenakan house-coat putih dengan sandal bulu bergambar muka beruang di kakiku. Dan seribu kejanggalan di luar kebiasaanku. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Aku terdiam. Rasanya itu bukan pertama kali aku mendapat dua buah koran pagi. Dan aku makin terdiam ketika kutemui tumpukan lain koran-koran pagiku di sudut ruang. Belum terbaca.
* * *
Pagi ini aku bertemu temanku lagi, Nadwa. Dia membopong tumpukan koran. Membuangnya ke sampah terdekat. Melihatku, buru-buru dijelaskannya padaku, ”Kamu tahu, Ade, aku bosan dengan tumpukan koranku yang kian menggunung.” Terdiam sejenak, lanjutnya, ”Yeah, ...tapi aku senang akhirnya aku stop subscribing koranku”. Bagaimana mungkin? Bukankah kamu harus mengikuti perkembangan berita Negeri ini, kataku mengulang ucapannya dahulu. ”Yeah.. betul, but, … you know … not that much ... and … you know … not that often … Lagian, aku tersiksa karena jadi merasa harus membacanya …, I always feel guilty not reading them… Now, I am happy…Finnaly, I can stop subscribing this stupid thing…!!”
..........Ha ha ha........jawabku bingung.
Baru aku mengerti kenapa cornflakes ku kini menjamur. Dan mengapa kulkasku penuh dengan susu basi.
Aku bukan Orang Negeri ini.
--------------------
Menunggu bis
Kemarin aku ke kampus. Seperti biasa. Meski kemarin mulai libur, aku bersikeras ke kampus. Setor muka, meminjam istilah temanku. Tapi hari itu ada yang berbeda. Bisku terlambat. Dua puluh sembilan menit tepat tertinggal dari jadwal yang kutahu. Itu tidak biasa. Itu tidak bisa kuterima. Malah, "Itu tidak normal", kata temanku yang menunggu bersamaku. Betul, itu lain dari biasanya. Membuatku kesal.
"Lain dari biasanya...", mendadak aku menggumam. Mengapa 'lain'? kataku. Mungkin menjadi 'lain' ketika yang sebelumnya adalah 'sama'. Sama dan rutin, itu dulu. Lain dan baru, itu yang terjadi. Berulang-ulang kucoba pahami itu. Rasanya kini aku makin bingung. Kenapa aku mulai membenci hal yang baru tinimbang hal yang rutin? Rasanya bukan karena itu.
Kala itu, kami mencoba berbicara mengusir bosan. Aku, temanku, dan sekitarku yang memang sudah bosan. Tapi mengapa menjadi sulit. Semua percakapan jadi basi. Rasanya aku tahu mengapa. Mungkin karena percakapan ini hanya pengisi waktu. Yang tidak dipersiapkan. Dan tidak diharapkan keberadaannya. Maka kita kesal ketika harus menciptakannya. Kesal ketika kita tidak punya pilihan lain. Pilihan yang bisa kita siapkan sebelumnya tanpa terjebak pada hal yang kita anggap sia-sia. Ya, mungkin karena kita tidak punya pilihan, kala itu. Tapi rasanya bukan hanya itu.
Aku rasa aku punya pilihan saat itu. Pilihan untuk tidak menunggu terlalu lama. Mustinya aku tahu. Toh sekarang mulai libur. Wajar jika seorang supir bis ingin mengendorkan otot-otot tegangnya semasa minggu perkuliahan yang padat. Toh sudah diumumkan tentang perubahan ini sebelumnya. Toh aku tidak terburu-buru. Toh aku sudah meyakini bahwa mantelku cukup tebal menghalau angin dingin yang datang kala menunggu. Jadi, rasanya bukan karena itu.
* * *
Akhirnya bisku datang. Dengan tergesa-gesa. Kami pun beranjak. Ada yang berbeda ketika menaiki bis ini. Semua mencoba berpura-pura santai, seolah tidak terlalu perduli, atau bahkan tidak ingin terlihat terlalu membutuhkan. ”Kenapa harus berpura-pura..?”, pikirku.
Namun anehnya aku juga begitu. Mencoba santai. Berpura-pura tidak perduli. Berkesan tidak terlalu membutuhkan. Aku menutupi. Aku tetap saja tidak ingin orang tahu. Bahwa sebenarnya aku kesal. Kesal pada situasi itu. Yang mengganggu ketajaman rutinitasku. Dan mengganggu kerapihan jadwalku. ”Tapi, kenapa harus kututupi ..?”, pikirku.
. . . . . . .
Aku rasa akhirnya aku tahu. Aku tidak ingin orang tahu bahwa kala itu aku tidak berdaya. Tidak berdaya mengubah situasi. Aku benci ditengari tanpa kekuatan. Aku enggan dikenali atas ketidak-berdayaanku. Dan aku tak ingin orang tahu. Hingga harus kututupi.
Rasanya memang itu yang terjadi. Aku memang tidak berdaya kala itu.
Atas situasi.
Atas pilihan.
Dan atas sang waktu.
-------------------
Salju pertamaku
Salju baru turun sedikit. Meski sedikit, potongan-potongan kristalnya mulai menutupi jalan tempat aku selalu melewatinya dengan berjalan kaki. Karenanya, jalan sudah mulai memutih. Aneh rasanya. Bagiku jalan raya selalu identik dengan aspal hitam yang aku biasa jumpai di jalanan di Indonesia. Panas, debu dan keramaian. Tapi jalan raya di sini berbeda. Dingin, menggigit dan hampa. Hanya sesekali saja mobil melewatinya. Itupun dengan tergesa-gesa. Aku cuma mampu melihatnya sekilas. Maklum, sekarang musim dingin.
Musim dingin berarti kosong. Semua orang tidak ingin berada di jalan. Secepat mungkin segera tiba di rumah. Hanya untuk melihat si upik yang berbungkus jaket pink tebal bergambarkan kelinci dengan kupingnya yang mencuat dari ujung kepalanya. Atau di ragil yang bermain adu lompat di tempat tidur springbed mamapapa yang terkenal dengan per-nya. Di rumah yang selalu hangat dengan udara hangat dari heater di pojok ruang makan keluarga. Yang meski menderu-deru bising namun selalu ditunggu-tunggu hangatnya. Atau mungkin sebenarnya hangat karena kehadiran keluarga itu sendiri. Bukan karena heater. Bukan karena salju yang turun. Tapi karena musim dingin berarti pulang.
* * *
Tidak sampai 100 meter aku berjalan, ada genangan air yang membeku. Aku coba memijaknya. Licin dan kaku. Lucu juga merasakannya. Kata orang, memecahkan genangan es pertama di kala awal musim dingin adalah berkah. Aku ingin mempercayainya. Tapi, bukankah ada seribu genangan es tersebar di seputar kota? Apakah semua itu berkah? Tapi entah mengapa aku mempercayainya. Aku selalu mencoba memecahkan genangan es sebisa yang kutemui. Tidak peduli besar, kecil, ataupun hanya sepotong di sudut tiang bus stop tempat aku selalu menunggu bis kampus. Karena sepertinya ada keasyikan tersendiri memburunya. Seperti keasyikan tersendiri memburu berkah. Yang mungkin sebenarnya tersebar di mana-mana. Hanya saja kita tidak sadari. Karena tertutup oleh rutinitas kita yang membekukan.
Tapi musim dingin tetap menjadi idola. Dia datang dan pergi ketika kita mulai bosan dengan musim sebelumnya. Mungkin dia datang untuk mengingatkan. Aku lebih suka mengatakan dengan kata-kataku yang lain. Aku pikir, mungkin dia datang untuk menggoda kita. Karena dia merajuk pada rutinitas hidup kita. Yang ada di selingkaran ruang kantor. Atau di seputaran meja rapat. Dengan hawa konstan yang hanya diciptakan oleh mesin pendingin AC. Tanpa mengerti apa itu sebetulnya yang disebut hangat. Atau mengerti apa itu sebenarnya dingin.
Tapi sekarang aku mengerti.
---------------