Menunggu bis
Kemarin aku ke kampus. Seperti biasa. Meski kemarin mulai libur, aku bersikeras ke kampus. Setor muka, meminjam istilah temanku. Tapi hari itu ada yang berbeda. Bisku terlambat. Dua puluh sembilan menit tepat tertinggal dari jadwal yang kutahu. Itu tidak biasa. Itu tidak bisa kuterima. Malah, "Itu tidak normal", kata temanku yang menunggu bersamaku. Betul, itu lain dari biasanya. Membuatku kesal.
"Lain dari biasanya...", mendadak aku menggumam. Mengapa 'lain'? kataku. Mungkin menjadi 'lain' ketika yang sebelumnya adalah 'sama'. Sama dan rutin, itu dulu. Lain dan baru, itu yang terjadi. Berulang-ulang kucoba pahami itu. Rasanya kini aku makin bingung. Kenapa aku mulai membenci hal yang baru tinimbang hal yang rutin? Rasanya bukan karena itu.
Kala itu, kami mencoba berbicara mengusir bosan. Aku, temanku, dan sekitarku yang memang sudah bosan. Tapi mengapa menjadi sulit. Semua percakapan jadi basi. Rasanya aku tahu mengapa. Mungkin karena percakapan ini hanya pengisi waktu. Yang tidak dipersiapkan. Dan tidak diharapkan keberadaannya. Maka kita kesal ketika harus menciptakannya. Kesal ketika kita tidak punya pilihan lain. Pilihan yang bisa kita siapkan sebelumnya tanpa terjebak pada hal yang kita anggap sia-sia. Ya, mungkin karena kita tidak punya pilihan, kala itu. Tapi rasanya bukan hanya itu.
Aku rasa aku punya pilihan saat itu. Pilihan untuk tidak menunggu terlalu lama. Mustinya aku tahu. Toh sekarang mulai libur. Wajar jika seorang supir bis ingin mengendorkan otot-otot tegangnya semasa minggu perkuliahan yang padat. Toh sudah diumumkan tentang perubahan ini sebelumnya. Toh aku tidak terburu-buru. Toh aku sudah meyakini bahwa mantelku cukup tebal menghalau angin dingin yang datang kala menunggu. Jadi, rasanya bukan karena itu.
* * *
Akhirnya bisku datang. Dengan tergesa-gesa. Kami pun beranjak. Ada yang berbeda ketika menaiki bis ini. Semua mencoba berpura-pura santai, seolah tidak terlalu perduli, atau bahkan tidak ingin terlihat terlalu membutuhkan. ”Kenapa harus berpura-pura..?”, pikirku.
Namun anehnya aku juga begitu. Mencoba santai. Berpura-pura tidak perduli. Berkesan tidak terlalu membutuhkan. Aku menutupi. Aku tetap saja tidak ingin orang tahu. Bahwa sebenarnya aku kesal. Kesal pada situasi itu. Yang mengganggu ketajaman rutinitasku. Dan mengganggu kerapihan jadwalku. ”Tapi, kenapa harus kututupi ..?”, pikirku.
. . . . . . .
Aku rasa akhirnya aku tahu. Aku tidak ingin orang tahu bahwa kala itu aku tidak berdaya. Tidak berdaya mengubah situasi. Aku benci ditengari tanpa kekuatan. Aku enggan dikenali atas ketidak-berdayaanku. Dan aku tak ingin orang tahu. Hingga harus kututupi.
Rasanya memang itu yang terjadi. Aku memang tidak berdaya kala itu.
Atas situasi.
Atas pilihan.
Dan atas sang waktu.
-------------------
.jpg)

<< Home