Salju pertamaku
Salju baru turun sedikit. Meski sedikit, potongan-potongan kristalnya mulai menutupi jalan tempat aku selalu melewatinya dengan berjalan kaki. Karenanya, jalan sudah mulai memutih. Aneh rasanya. Bagiku jalan raya selalu identik dengan aspal hitam yang aku biasa jumpai di jalanan di Indonesia. Panas, debu dan keramaian. Tapi jalan raya di sini berbeda. Dingin, menggigit dan hampa. Hanya sesekali saja mobil melewatinya. Itupun dengan tergesa-gesa. Aku cuma mampu melihatnya sekilas. Maklum, sekarang musim dingin.
Musim dingin berarti kosong. Semua orang tidak ingin berada di jalan. Secepat mungkin segera tiba di rumah. Hanya untuk melihat si upik yang berbungkus jaket pink tebal bergambarkan kelinci dengan kupingnya yang mencuat dari ujung kepalanya. Atau di ragil yang bermain adu lompat di tempat tidur springbed mamapapa yang terkenal dengan per-nya. Di rumah yang selalu hangat dengan udara hangat dari heater di pojok ruang makan keluarga. Yang meski menderu-deru bising namun selalu ditunggu-tunggu hangatnya. Atau mungkin sebenarnya hangat karena kehadiran keluarga itu sendiri. Bukan karena heater. Bukan karena salju yang turun. Tapi karena musim dingin berarti pulang.
* * *
Tidak sampai 100 meter aku berjalan, ada genangan air yang membeku. Aku coba memijaknya. Licin dan kaku. Lucu juga merasakannya. Kata orang, memecahkan genangan es pertama di kala awal musim dingin adalah berkah. Aku ingin mempercayainya. Tapi, bukankah ada seribu genangan es tersebar di seputar kota? Apakah semua itu berkah? Tapi entah mengapa aku mempercayainya. Aku selalu mencoba memecahkan genangan es sebisa yang kutemui. Tidak peduli besar, kecil, ataupun hanya sepotong di sudut tiang bus stop tempat aku selalu menunggu bis kampus. Karena sepertinya ada keasyikan tersendiri memburunya. Seperti keasyikan tersendiri memburu berkah. Yang mungkin sebenarnya tersebar di mana-mana. Hanya saja kita tidak sadari. Karena tertutup oleh rutinitas kita yang membekukan.
Tapi musim dingin tetap menjadi idola. Dia datang dan pergi ketika kita mulai bosan dengan musim sebelumnya. Mungkin dia datang untuk mengingatkan. Aku lebih suka mengatakan dengan kata-kataku yang lain. Aku pikir, mungkin dia datang untuk menggoda kita. Karena dia merajuk pada rutinitas hidup kita. Yang ada di selingkaran ruang kantor. Atau di seputaran meja rapat. Dengan hawa konstan yang hanya diciptakan oleh mesin pendingin AC. Tanpa mengerti apa itu sebetulnya yang disebut hangat. Atau mengerti apa itu sebenarnya dingin.
Tapi sekarang aku mengerti.
---------------
.jpg)

<< Home