Koran Pagi
Koran pagi. Selalu datang sebelum pagi itu sendiri datang. Jelas sebelum aku bangun. Seperti lagaknya adegan di layar Negeri Amerika, tiap pagi aku membuka pintu apartemenku untuk mengambil koran pagi. Memakai house-coat putih dan sandal bulu bergambar muka beruang. Membuka lembaran pertamanya sekilas lalu terbirit-birit masuk rumah kembali karena hawa dingin mengejarku. Dan menutup pintu. Seperti di adegan filem yang kemarin kusaksikan. Juga sehari sebelumnya. Dan juga mungkin lima hari yang lalu.
Secuplik geli pada senyumku. Aku kini mengalami kebiasaan yang dulu kuanggap luar biasa. Aku berlangganan koran Negeri ini. Tiap pagi. Kebiasaan baru bagiku. Sama seperti aku mulai makan pagi –yang kini kusebut breakfast– dengan cornflakes dan susu. Atau menekan tuts teleponku untuk sebuah pizza di kala senggangku. Aku rasa aku sudah mulai fasih. Fasih mengikuti adegan-adegan filem Negeri ini. Fasih seperti Orang Negeri ini. Seperti yang kusaksikan di layar kemarin. Betul, kusaksikan juga sehari sebelumnya. Juga lima hari sebelumnya. Aku tidak menganggap adegan itu luar biasa lagi.
* * *
Berlangganan koran adalah ide temanku, Nadwa, sesama pelajar asing yang tinggal bersebelahan denganku. Lebih murah, katanya. Juga praktis, tambahnya. Aku manggut-manggut menyetujuinya. Alasan klasiknya adalah, eceran selalu lebih mahal jatuhnya daripada berlangganan. Lagian, bukankah kita harus mengikuti perkembangan berita Negeri ini, buru-buru ditambahkan olehnya. Dan, praktis, karena selalu tersedia di depan mata. Di depan pintu rumah. Mungkin diantar oleh remaja teenager yang bekerja part-time buat menambah uang jajan sekolah. Mungkin dengan mengendarai sepeda. Memakai topi, jaket bergambar salah satu klub baseball idolanya –taruh kata yankees–, dengan tumpukan koran pada keranjang depan yang siap dilemparkan ke pintu pelanggan. Berkeliling sekitar lingkungan rumah-rumah khas suburban, asri, tanpa pagar, berwarna-warni. Sesekali diperciki semburan air yang berputar perlahan dari garden sprinkler di halaman berumput hijau memikat. Aku rasa seperti itu. Seperti di adegan filem yang biasa kusaksikan. Seperti yang dialami Orang Negeri ini.
Kubuka lembaran koranku. Ada kabar menarik apa hari ini? Ternyata, sudah tidak ada berita tentang hangatnya pertikaian dua kubu calon penentu Negeri ini. Bush dan Kerry. Baru kuingat, bahwa itu sudah selayaknya menjadi berita basi. Karena sudah 6 minggu yang lalu berujung di pemilihan umum. Aku memang tidak perduli dengan sang pemenang, tetapi sorotan kemasan berita ala paparazi yang aku incar. Bukan dialog sang tuannya, apalagi ulasan programnya. Terlalu rumit buatku. –”Atau terlalu asing, mungkin maksudmu?”, suara lain di kepalaku menggodaku...”Bukan, hanya rumit saja”, tegasku. ”Tidak..!., kini tidak lagi asing bagiku, kok... mmm ...mestinya tidak....”–. Kubuka terus halaman koranku. Sia-sia mencarinya. Sudah bukan berita menarik lagi mungkin. Jadi, apa lagi yang bisa aku baca? Let’s see, ... bagaimana kalau tentang ... pertikaian klasik antar dua gang Hispanik? Tragedi pengakuan seorang governor atas kelainan homo-sexual dirinya? Kisah heroik gadis cilik berumur 4 tahun yang menyelamatkan ibunya dari kecelakaan di jalan tol? … Atau spot niaga tentang peluang memiliki rumah? … Mendadak aku kehilangan selera membaca. Aku menyudahinya bahkan sebelum mencapai halaman terakhir. Mungkin memang terlalu asing buatku.
* * *
Hari itu kutemui koran pagiku rusak karena kuyup hujan yang kemudian mengering keriting. Di sudut sisi berandaku dan tertutup debu. Padahal hari itu tidak hujan. Tidak untuk hari itu. Menggerutu aku membukanya, siap menyumpah pada pengirimnya. Membuka lembaran pertamanya sekilas, lalu kubuka pintu rumahku. Seperti biasa. Langkahku terhenti ketika kutangkap sesuatu di satu pojok halamannya. Baru kusadar, ini bukan koran pagiku hari itu. Tapi sehari yang lalu. Dan di kakiku masih teronggok koran pagiku hari itu. Teronggok sejak pagi hari. Dan saat itu memang sore hari, bukan pagi hari. Dan aku tidak sedang mengenakan house-coat putih dengan sandal bulu bergambar muka beruang di kakiku. Dan seribu kejanggalan di luar kebiasaanku. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Aku terdiam. Rasanya itu bukan pertama kali aku mendapat dua buah koran pagi. Dan aku makin terdiam ketika kutemui tumpukan lain koran-koran pagiku di sudut ruang. Belum terbaca.
* * *
Pagi ini aku bertemu temanku lagi, Nadwa. Dia membopong tumpukan koran. Membuangnya ke sampah terdekat. Melihatku, buru-buru dijelaskannya padaku, ”Kamu tahu, Ade, aku bosan dengan tumpukan koranku yang kian menggunung.” Terdiam sejenak, lanjutnya, ”Yeah, ...tapi aku senang akhirnya aku stop subscribing koranku”. Bagaimana mungkin? Bukankah kamu harus mengikuti perkembangan berita Negeri ini, kataku mengulang ucapannya dahulu. ”Yeah.. betul, but, … you know … not that much ... and … you know … not that often … Lagian, aku tersiksa karena jadi merasa harus membacanya …, I always feel guilty not reading them… Now, I am happy…Finnaly, I can stop subscribing this stupid thing…!!”
..........Ha ha ha........jawabku bingung.
Baru aku mengerti kenapa cornflakes ku kini menjamur. Dan mengapa kulkasku penuh dengan susu basi.
Aku bukan Orang Negeri ini.
--------------------
.jpg)

<< Home